Peran BPM (Business Process Management) pada Bank

Saat ini persaingan perbankan di Indonesia sangat ketat. Banyak bank-bank asing mulai berdatangan, seiring tumbuhnya ekonomi di Indonesia. Kunci dari loyalnya nasabah tentunya tidak lepas dari pelayanan yang diberikan oleh penyedia jasa(bank). Pelayanan yang baik tentunya akan meingkatkan keloyalan nasabah, dan jumlah nasabah.

Hal tersebut tidak terlepas dari bisnis proses yang dilakukan oleh perbankan. Misal : seorang customer tentunya lebih memilih bank yang proses pembukaan rekening lebih cepat, daripada yang lama. Customer lebih ingin proses pinjaman lebih cepat daripada yang lama.

Hal itu tentunya berkaitan dengan prosedur, rule dan proses yang dilakukan dalam sebuah organisasi. Misal, ketika proses pinjaman. ada beberapa proses yang harus di otorisasi oleh manusia, sehingga tidak menutup kemungkinan akan terjadi bottleneck.  waktu bisa tidak terprediksi dan akhirnya mengecewakan customer.

Masalah ini dapat diatasi dengan adanya BPM. BPM menjembatani/ sebagai layer tambahan antara user dengan sistem

BPM Delivers A Layer for Control, Visibility, Auditability

Berikut perbandingan antara sebelum BPM dan sesudah BPM :

Sebelum adanya BPM :

  1. Manual dan banyaknya data dan variabel di dalam sistem
  2. Kompleksitas di sisi end user
  3. lingkungan kerja yang tidak efisien
  4. Prioritas yang tidak konsisten
  5. Lemahnya kontrol  dalam sistem, dan bisnis event
  6. Tidak visible
  7. Tugas dan komunikasi yang tidak terstruktur : kertas, email

Sesudah BPM

  1. Prioritas otomatis dan kerja yang terarah
  2. Mengarahkan user kepada sebuah keputusan
  3. Pengaruh positif pada sistem dan data yang telah ada
  4. Bisnis event termonitor
  5. Visibilitas dan kontrol proses yang realtime
  6. Cepat dan mudah untuk menggunakan development tools

 

Dapat kita simpulkan dengan adanya BPM, sebuah organisasi dapat mengurangi pekerjaan yang tidak efektif dengan adanya otomasi antar proses, dampak langsungnya adalah kesalahan / human error berkurang, sehingga hal ini mempengaruhi tingkat visibilitas. Selain itu pula proses dapat termonitor, sehingga apabila bisnis proses tidak berjalan dengan baik, maka decision maker dapat merubah Bisnis proses dengan cepat. sehingga, pembaruan selalu terjadi. yang pada akhirnya tentunya meningkatkan benefit dan daya saing perusahaan terutama perbankan.

 

 

 

Pre sales dan post sales

Di dalam dunia networking ada dua posisi yang umumnya selalu ada, yaitu pre-sales dan post-sales. Apa yang membedakan kedua posisi ini dan dimanakah posisi ideal kita dalam dunia networking?

Dalam pendapat gue (kebetulan karena gue ada di posisi pre-sales dan post-sales sekaligus) kedua posisi ini memiliki keunikan masing masing, akan tetapi ideal nya seorang pre-sales harus memulai karir networking dia di posisi post-sales terlebih dahulu.

Mengapa?

Untuk posisi post-sales kita selalu di tuntut untuk bisa solving sebuah problem di lapangan dengan cepat, bukan hanya sampai disitu, ideal nya seorang post-sales harus mampu menjelaskan mengapa sebuah problem terjadi dan bagaimana menyelesaikan nya ke customer, seorang post-sales di tuntut untuk bisa bekerja under pressure (karena rata rata bekerja di customer itu selalu di push) dan mampu mengendalikan situasi di lapangan dengan baik, dan tentunya mampu berhadapan dengan customer dengan sejuta penjelasan teknikal yang njelimet. Seorang post-sales umumnya memiliki spesialisasi di bidang tertentu.

untuk posisi pre-sales lebih di utamakan sebuah kreatifitas, seorang pre-sales harus mampu membuat sebuah solusi yang bisa di pertanggungjawabkan, memenuhi ekpetasi customer dan harus bisa di presentasikan ke hadapan customer, seorang pre-sales tidak di anjurkan mengerti satu hal saja, tetapi lebih di tuntut untuk bisa mengerti beberapa hal dengan baik dalam menyusun sebuah solusi, tidak jarang seorang pre-sales mengerti beberapa brand sekaligus. Seorang pre-sales juga harus mampu membuat prosedur dalam instalasi maupun migrasi, disini tentunya dibutuhkan pengalaman yang tidak sedikit jam terbang nya agar bisa memprediksi segala kemungkinan yang bisa terjadi di lapangan.

Dari kedua ringkasan singkat ini dapat gue ambil 1 kesimpulan kenapa seorang pre-sales lebih baik pernah berada di posisi post-sales terlebih dahulu. Hal ini lebih di sebab kan seorang pre-sales lebih ke arah solusi total daripada berkutat dengan teknikal yang lebih spesifik, akan tetapi tetap membutuhkan kemampuan teknikal untuk menciptakan sebuah solusi yang bisa memenuhi keinginan customer sesuai dengan keadaan di lapangan.

 

tulisan bpk : SWD